November 30, 2007
November 27, 2007
Philodendron
PHILODENDRON ato yang biasa disebut Philo merupakan Keluarga Aracea juga alias tanaman daun daunan, Dengan bentuk daunnya yang lebar, Philodendron banyak disuka sebagai tanaman dalam ruang atau untuk hiasan. Sangat banyak spesies, dengan ciri-ciri tersendiri pada lebar, ketajaman, dan warna daun.
Sebetulnya, keindahan Philodendron tak melulu terletak pada daunnya. Bunga dan batangnya pun terkadang mengundang decak kagum.

ini adalah philodendron yang ada di belakang rumah ku, kurang tau termasuk jenis apa
Tanaman Teduh
Sebagai tanaman yang berasal dari hutan tropis yang lembab, Philodendron tidak terlalu suka panas. “Akan lebih baik jika diletakkan di atas kolam ikan. Pertumbuhannya lebih baik dibandingkan disimpan di atas rak tanaman akan lebih subur jika diberi pupuk cair kimia buatan sendiri. “Kasih sebulan sekali dan semprotkan ke daunnya secara rutin.” Yang paling penting, media tanam harus porous agar mampu menyimpan atau mengikat akar. “Seperti pakis, kompos bambu, dan arang sekam. Kalau mau memperbanyak unsur haranya, berikan lebih banyak kompos bambu.”
Waspadai ulat atau virus yang membuat busuk akar dan batang. “Jika tumbuh jamur semprotkan fungisida supaya tidak merambat ke daun lain.” Arniria membenarkan tanaman ini termasuk yang mudah dirawat asalkan syarat tertentu dipenuhi. “Asal cukup gizi dan makanan pasti akan tumbuh subur.”
Untuk mengembangbiakan pohon ini tak terlalu sulit. “Harus dibelah dulu bonggolnya baru bisa diperbanyak meski ada risiko mengalami busuk. Setelah dua bulan baru bisa dilihat hasilnya.”
Pohon Cinta
1. Nama Philodendron diambil dari bahasa Yunani, Philo (cinta) dan dendron (pohon).
2. Agar daun tampil mengilap, lap daun dengan susu murni.
3. Jangan simpan tanaman di tempat yang terlalu panas atau langsung kena matahari karena akan berpengaruh ke daun.
4. Berilah pupuk sebulan sekali.
5. Jika ingin disimpan di dalam ruangan jangan terlalu lama, cukup 3 hari. Lalu, keluarkan agar terkena sinar matahari.
(reff : tabloid nova online)
November 20, 2007
Alocasia is a genus of broad-leaved rhizomatous or bulbous perennials from the Family Araceae. There are about 70 species of Alocasia occurring in Asia, Oceania and South America. The large cordate or sagittate leaves grow to a length of 20 to 90 cm on long petioles. Their beautiful araceous flowers grow at the end of short stalk, but are not conspicuous, often hidden behind the leaf petioles.
The stem (a corm) is edible, but contains raphid crystals of oxalic acid that can numb and swell the tongue and pharynx. The corms require prolonged boiling before serving or processing as a food.
Di Indonesia tanaman ini juga sering disebut dengan tales, senthe, atau bahkan disebut sebagai keladi (Caladium). Walaupun begitu, Alocasia sesungguhnya berbeda dengan Caladium, terutama kalau dilihat dari umbinya.
Alocasia juga sangat bervariasi; dari yang berdaun tipis hingga berdaun tebal; dari yang berdaun kecil hingga berdaun dengan ukuran raksasa. Habitat hidupnya juga bermacam-macam. Ada yang cocok hidup sebagai indoor, tetapi ada juga yang tepat sebagai tanaman outdoor. Banyak jenis tanaman ini yang sungguh menawan untuk dikoleksi.
November 19, 2007
XANTHOSOMA
Xanthosoma is a genus of about 50 species of tropical and sub-tropical arums in the flowering plant family, Araceae, all native to tropical America. Several species are grown for their starchy corms, an important food staple of tropical regions, known variously as malanga, new cocoyam, tannia, tannier, yautía, macabo, taioba , dasheen and ‘ape. Many other species (including especially X. roseum) are utilized as ornamental plants, and in popular horticultural literature are known as ‘ape or elephant ear (from the purported resemblance of the leaf to an elephant’s ear), although the latter name is sometimes also applied to members with similar appearance and uses in the closely related genera of Caladium, Colocasia (i.e., taro), and Alocasia.
The leaves of most Xanthosoma species are 40-200 cm long, saggitate (arrowhead-shaped) or subdivided into 3 or as many as 18 segments. Unlike the leaves of Colocasia, those of Xanthosoma are usually not peltate—the upper v-notch extends in to the point of attachment of the leaf petiole to the blade.
Xanthosoma beranggotakan sekitar 50 species yang hidup di daerah tropis dan sub tropis benua Amerika. Beberapa species sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi “batang”nya dengan nama lokal yang berbeda-beda, misalnya: malanga, new cocoyam, tannia, tannier, yautía, macabo, taioba , dan ‘ape. Jenis-jenis lain juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Umumnya Xanthosoma memiliki daun yang lebar antara 40 cm sampai 200 cm, meski ada pula yang berbentuk dwarf yang punya bentuk kecil.
Jenis-jenis Xanthosoma antara lain:
Xanthosoma atrovirens ‘Albo Marginata’
Xanthosoma atrovirens ‘Dwarf Green’
Xanthosoma atrovirens variegated = mickey mouse
Xanthosoma aurea ‘Lime Zinger’
Xanthosoma daguense Engl.
Xanthosoma jeoquinii lineatum
Xanthosoma lindenii ‘Magnificum’
Xanthosoma maffaffa
Xanthosoma poeppigii
Xanthosoma ‘Princess’
Xanthosoma robusta
Xanthosoma daguense
Xanthosoma sagittifolium/sagittifolia - Giant Elephant Ear
Xanthosoma violaceum - Blue Taro
Xanthosoma ‘Violet’
Xanthosoma wendlandii
